melatih pikiran dan tubuh (bagian 1)

Setahun yang lalu, saya dengan kawan saya Dadan Hermawan sengaja membuat video ini sebagai sarana untuk melakukan ecaluasi atas latihan silat yang sedang kami tekuni. Kami sangat tertarik dengan membuat video koreografi, namun kesulitan untuk menemukan teknik yang tepat untuk melakukan itu. Tak mau terjebak dalam wacana, setelah menyaksikan beberapa video tutorial silat di youtube, akhirnya kami memutuskan untuk mempraktekkan apa yang kami ketahui. Setelah beberapa sesi latihan kami lalui, akhirnya kami memutuskan untuk merekam video ini menggunakan kamera BlackBerry.

Inti dari latihan yang kami lakukan adalah mencoba mencari keseimbangan koordinasi antara panca indera, otak, dengan tubuh. Silahkan mencermati dan mengkritik apa yang kami lakukan. Tunggu video kami selanjutnya.

are you building your dream? (part 2)

I was raised among the paddy fields. Once upon a time, i never imagined what life would be beyond the Sundanese environment. I also never imagined how does it feel to dealt with people different from my religious view. I only came to mind with what the television has offered me. Sesame Street becomes my daily teacher who taught me about the English language and the contexts i later found in life. Big Bird taught me that it’s okay to be different as long as you appreciate the differences as diversity rather than to dispute about it. In real life, spending my school break with my late grand father taught me about my family and cultural heritage. I learned that i come from a family grown out of agricultural background where we depend our living from nature, from the crops we sow on the farming lands and paddy fields. My grandfather was a farming instructor, and my grandmother was an elementary teacher, both of them are public servants who raised five of their children well, including my mother. I was raised on a diet of rice, cassava, yams, corn and coconuts. These diets helps me understand how to value natural resources especially water. We have grown less crops because lack of water, but i was puzzled how people treated rivers and streams as toilets and waste disposal rather than the source of life.

Religion shaped my thoughts about life. My parents and my grandparents went to the hajj pilgrimage in 1992, it was the same year when the Mina Tunnel incident occurred. My dad always tells the story of how it was a miracle that all of them, including their pilgrimage group can get out from the place alive or how some African man helped my mother by pulling her out of the stampede of pilgrims, saved her from being trampled to death. The concept of miraculous event, the divine intervention, the presence of God lead me to get to know about Islam and what does it takes to be a good Muslim. Taking after school courses about the religion never bothers me, i love reading the good book in Arabic. I was amazed by the stories my ustadz and ustadzah told me after reciting the good book. I was fascinated by the existence of the jinns, angels and demons. Until i encounter a jinn after the Maghrib prayer at my family’s mosque took a shock in my childhood. At that first time i don’t know what to do when i encounter such creature, once i only known from story told by my friends. It was a simple life where i based my assumptions from my religious belief or the belief that my parents taught me.

Finally i tasted “freedom.” After living with my parents for almost 18 years i finally got accepted to college, taking a major in English Literature. I don’t know where i was heading but since living with my parents were quite an ordeal, especially living by the standards of my father. He’s an hard boiled entrepreneur in the hospitality business trying to figure things out himself building a hotel he dreamed about since he went to the hospitality vocational school. I was fed up with who i am under his shadows, doing things under his point of views. As i said, i finally tasted freedom as a college student, meeting new people, expanding my horizons learning how to act in a diverse society, but i never liked the educational system there. I started to wonder what does it worth learning all of these things, instead i learn how to have fun and taking classes for fun also. I was once called “village boy”, they recognize me as a living Kabayan. He is one popular Sundanese¬†folklore character, known for being naive and taking simple solutions at things. He hide his wisdom by showing his lazy nature. Maybe they were right all along, that’s who i am, i’m too easy going, like to take several small steps rather than to take one fast sprint on things.

How can i cope with new environments. I cope by observing. I never forget my roots, my actions always depends on how much my part is needed in a situation, i wasn’t very fond of taking everything under my control, instead i let i flow like the river in my hometown. I took silat, especially it’s philosophy very seriously. I never attack before someone attacked me first and i always take measurements in my steps. Taking too many measurements i suppose, my professor told my that i always over think at things, try to just do or just write what’s in your thought instead of thinking it over and over again. That was the time i learn about the philosophy of jeet kune do,¬†a way without a way, my own way. I applied my own approach on silat and my life, but it turns out it was hard to make a change. Although, isn’t that what it takes to be an altruist?

Paddy Fields

Paddy Fields (Photo credit: Embra)

iblis dan setan (bagian 2)

Penghargaan dan hukuman adalah konsep yang paling awal diajarkan dalam kehidupan kita. Kita dididik bagaimana bersikap dan bertutur sejak kita masih kecil. Pada awalnya, mengatasi fungsi tubuh kita sendiri adalah pembelajaran paling dasar yang kita terima. Kita diberi makan, dibersihkan, dan diajarkan untuk berkomunikasi dalam berbagai bentuk oleh orang tua kita. Sebenarnya kita diajarkan untuk menalar situasi dan melakukan solusi agar kita bisa hidup mandiri sebagai individu yang tidak selalu bergantung kepada orang tua kita. Walaupun subjektif dengan pengetahuan orang tua kita, kita diajari konsep benar dan salah melalui penghargaan dan hukuman yang dilakukan oleh orang tua kita. Itu merupakan penerapan konsep “kasih sayang” yang paling dasar yang dilakukan orang tua kita. Penerapan konsep tersebut sering dibarengi dengan adanya sikap posesif terhadap individu yang disebut anak. Anak diperlakukan sebagai “milik” orang tuanya, terpisah dari sejauh mana kemampuan individu tersebut berkembang 14-20 tahun dari saat ia dilahirkan. Kemudian, konsep penghargaan dan hukuman, ibaratnya, menjadi setir yang mengendalikan bagaimana kita berpikir dan memecahkan masalah, berdasarkan pengalaman yang dimiliki sang orang tua. Pengalaman tersebut menjadi kerangka pemikiran si anak dalam menilai lingkungan di sekitarnya, hasilnya adalah individu yang baru yang memanfaatkan pengalaman yang diunduh melalui tindakan orang tua. Sedikit disadari, pengetahuan yang diunduh tersebut berakibat kepada persepsi si anak terhadap lingkungannya dan bagaimana ia mengambil tindakan dalam situasi tertentu.

Tuhan dan Iblis merupakan dua faktor penting dalam kehidupan manusia. Dengan mengajarkan “agama” berdasarkan cerita-cerita yang terdapat dalam tiap-tiap kitab suci saja, secara tidak langsung orang tua mengajarkan Tuhan sebagai simbol kebaikan dan iblis atau setan sebagai simbol kejahatan. Kebaikan akan dibalas dengan pahala sehingga bisa masuk surga, sedangkan kejahatan akan dibalas dengan dosa sehingga seseorang bisa terjerumus kedalam neraka. Dalam pengajaran ini, kebaikan yang dilakukan akan dibalas dengan keuntungan, sedangkan keburukan yang dilakukan dibalas dengan kerugian. Pada akhirnya yang terbaca oleh anak adalah kerangka berpikir untung-rugi. Bagaimana seorang individu mendapatkan keuntungan dan menghindari kerugian.

Surga adalah tempat dimana kita mendapatkan penghargaan tanpa henti sedangkan neraka merupakan tempat dimana kita mendapatkan penyesalan tanpa henti. Konsep penghargaan dan penyesalan yang diajarkan mengakibatkan seorang individu berlomba-lomba untuk mendapatkan penghargaan sebanyak-banyaknya dan sebisa mungkin menghindari penyesalan. Dalam perdagangan, seorang individu dipacu untuk mendapatkan keuntungan dan reputasi sebaik mungkin untuk mendapatkan hasil yang paling banyak dalam bentuk harta dan alat tukar, sedangkan di sisi lain seorang individu akan berpikir sekeras mungkin untuk menghindari kerugian yang berakhir pada penyesalan karena mengambil langkah yang salah. Bukankah seharusnya kita memperhatikan perjalanan kita agar tidak salah mengambil jalur, alih-alih hanya sekedar membayangkan tempat yang akan kita tuju?

Kehidupan merupakan saat dimana kita semua melakukan semua aktifitas kita sedangkan kematian merupakan titik dimana semua aktifitas tersebut berakhir. Kehidupan adalah wahana pembelajaran tanpa henti, dimulai dari kelahiran lalu diakhiri dengan kematian. Menjalani kehidupan adalah proses perjuangan tanpa henti, tempat kita belajar informasi-informasi baru dan menerapkan apa yang telah kita pelajari selama ini. Namun bila dipandang dari konsep untung-rugi, pada akhirnya kita memerlukan sebuah sosok untuk meminta pertolongan dan sebuah sosok untuk disalahkan. Kita menjadi luput dari konsep bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri. Disadari atau tidak, apapun yang kita lakukan merupakan tindakan yang diambil dengan kesadaran kita sendiri. Pertanyaannya adalah, apakah kesadaran kita tersebut selalu didasari konsep untung rugi atau hanya sebagai proses pembelajaran. Kematian merupakan akhir dari proses. Seorang kawan yang menganut ajaran konghucu pernah berujar bahwa seseorang tidak bisa dibilang baik atau jahat sebelum ia mati.

Seharusnya kita memusatkan perhatian kita pada proses, bukan memusatkan perhatian kita pada hasil semata. Kita luput memperhatikan rute yang kita tempuh sehari-hari sebagai komuter namun lebih berpusat kepada jalan tercepat yang kita tempuh tanpa memedulikan pengguna jalan raya yang lain. Sebagai pengguna sarana transportasi umum, kita sering menyalahkan kemacetan sebagai hambatan dan luput memikirkan solusi kemacetan atau keterlambatan yang kita alami. Transportasi roda dua adalah solusi tercepat untuk menghindari kemacetan dan keterlambatan. Tanpa disadari alat transportasi bermotor roda dua merupakan pilihan yang paling mudah untuk menghadapi masalah tersebut tanpa menghiraukan dampaknya, tanpa menghiraukan kenyamanan pengguna jalan yang lain. Dari contoh tersebut, dapat kita lihat kepemilikan kendaraan roda dua bukan serta-merta sebagai solusi ekonomis dalam transportasi, namun seperti alat untuk balapan mencapai tujuan dalam waktu dan dengan biaya minimal. Demikianlah kebanyakan orang menjalani hidup dengan ekonomis, mencerminkan tindakan-tindakan yang ekonomis tanpa menghiraukan dampak yang terjadi, karena semua orang cenderung berpikir dalam kerangka yang sama. Itu pula yang menyebabkan sistem transportasi umum yang lebih ramah lingkungan kurang diminati, karena kecenderungan sikap mencapai tujuan individu lebih penting daripada mencapai tujuan bersama. Apakah konsep benar dan salah masih relevan dimana pemaknaan konsep tersebut lebih subjektif berdasarkan kepentingan individu, padahal katanya manusia itu mahluk sosial yang saling bergantung pada peranan masing-masing dalam menjalani hidup?



curhat dan depresi (bagian 2)

Banyak orang percaya bahwa kemampuan otak kita belum terpakai sepenuhnya. Sebagian orang bilang bahwa kemampuan 0tak kita hanya terpakai 2,5% atau ada pihak lain yang berpendapat kita hanya memakai 10% dari potensi otak kita sepenuhnya. Dengan kemampuan yang demikian kecil porsinya, bisa kita lihat betapa pesat kemajuan teknologi yang kita capai. Diantara kemajuan-kemajuan tersebut, kemajuan di bidang teknologi informasi terasa demikian cepat, dengan adanya media-media sosial yang dapat kita akses dalam genggaman kita. Gadget-gadget yang kita miliki untuk saling berkomunikasi menjadi sarana sosialisasi yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan kita. Pada saat kita jengah dengan rutinitas kita, gadget-gadget tersebut dapat menjadi sarana pertolongan pertama untuk bersosialisasi dengan dunia maya dalam jangkauan lokal maupun internasional. Di lain pihak, sarana bersosialisasi yang baru ini malah menjadi batasan bagi kita untuk bersosialisasi langsung dengan manusia lain. Bahkan dengan mudahnya, media telekomunikasi ini mengasingkan keberadaan kita dari jarak sosial yang seharusnya secara sengaja maupun tidak. Dalam genggaman kita, kita dapat secara terbuka menunjukkan siapa diri kita yang jarang kita tunjukkan dalam dunia nyata, kita dapat secara tertutup menjalin hubungan rahasia yang tidak ingin orang lain ketahui atau dengan mudahnya kita dapat memata-matai aktifitas seseorang di dunia maya untuk kepentingan kita sendiri.

Otak kita memiliki kecerdasan logika dan kecerdasan emosional. Kecerdasan logika seringnya hanya terbatas pada pemecahan masalah teknis yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, sedangkan kecerdasan emosional seringnya juga hanya terbatas dengan masalah-masalah sosial yang kita hadapi sehari-hari. Lalu, dimanakah manfaat kedua kecerdasan tersebut bagi pribadi kita? Jarang kita sadari bahwa sehari-hari kita lebih fokus dengan apa yang terjadi diluar diri kita, namun kita sering melupakan kebutuhan psikis diri kita sendiri. Spiritualitas sepertinya menjadi kebutuhan yang terpisah dari kehidupan kita sehari-hari. Dengan mudah kita dapat menemui kejahatan-kejahatan kerah putih terjadi serta dilakukan oleh orang-orang yang cerdas. Korupsi dan gratifikasi merupakan hal-hal yang lumrah dalam kehidupan kita sehari-hari. Sangat lumrah, sepertinya korupsi dan gratifikasi merupakan bahasa pertukaran baru dalam transaksi sosial kita. Istilah pelicin atau titipan merupakan alat tukar resmi dalam memecahkan “masalah-masalah” yang kita miliki. “Kenapa harus sulit kalau bisa dipermudah?” memiliki artian lain, seakan-akan kemudahan memiliki sebuah harga yang bisa diukur dengan kapital. Kemudahan yang dapat dibeli membuat otak kita menjadi malas berpikir bahkan malas untuk memecahkan masalah, karena tiap orang memikirkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Malasnya berpikir membuat kemampuan kita untuk memecahkan masalah jadi menurun.

Saat otak kita kelebihan beban, maka sistem pertahanannya adalah membagi beban tersebut kepada orang lain. Istilah lain dari membagi masalah adalah curhat. Freud melabeli hal tersebut sebagai the speaking therapy, dimana si empunya masalah mengujarkan semua unek-uneknya kepada seorang terapis sehingga si terapis dapat membantu orang tersebut mengurai masalah-masalah dan mengetahui sebab-sebab mengapa batinnya begitu tertekan. Masalah psikis yang biasanya muncul tidak lepas dari pola kita dididik semasa kecil hingga remaja. Sejak remaja kita sudah terbiasa curhat tentang masalah-masalah kita kepada teman-teman terdekat. Jarak antara hubungan orang tua dengan anak menyebabkan mudahnya kita pada saat remaja untuk berbagi masalah dengan rekan sebaya, bukannya dengan orang tua yang seharusnya lebih pro-aktif membimbing perkembangan kita. Sekolah telah menjadi sebuah institusi penitipan anak, dimana kita lebih kuat dipengaruhi lingkungan pergaulan sekolah dibandingkan lingkungan rumah tangga kita sendiri. Namun, tanpa bimbingan yang baik, curhat dapat berubah dari sarana untuk mengurai masalah menjadi sarana untuk berbagi kebencian. Kebencian terbagi karena informasi yang dibeberkan menrupakan pengetahuan subjektif si penutur sehingga si pendengar hanya mendapatkan informasi searah dari masalah yang dituturkan.

Solusi yang terbaik dalam menghadapi permasalahan psikis adalah mengendalikan diri dan mengembangkan kemampuan pemecahan masalah kita. Semuanya dimulai dari diri kita sendiri, sebelum kita bisa ikut memecahkan masalah psikis orang lain, maka kita harus mawas diri dengan kemampuan pemecahan masalah kita sendiri. Otak kita adalah super komputer yang teramat canggih, mampu menegakkan norma di suatu saat dan melanggarnya pada saat yang lain, sesuai kebutuhan kita sendiri. Tujuannya hanya satu, untuk bertahan hidup. Insting primordial untuk bertahan hidup merupakan insting yang paling terangsang oleh sistem yang mengatur kehidupan kita. Tujuan-tujuan material yang bersifat sekuler, menjadikan manusia tak jauh berbeda dengan hewan yang bertahan hidup berdasarkan insting. Semua ditata dalam sistem penilaian subjektif “enak” dan “tidak enak.” Untuk mengoptimalkan kemampuan pemecahan masalah kita, kita harus keluar dari kotak penilaian tersebut serta mulai memandang semuanya adalah sebab – akibat – konsekuensi dengan melibatkan kecerdasan psikis kita untuk mengenali bahwa cara orang untuk menerima informasi itu berbeda-beda.

Kesehatan psikis kita erat kaitannya dengan kesehatan fisik kita. Dari sudut pandang material, benak kita tidak dapat terdeteksi, namun perangkat keras dimana benak itu berada dapat kita ketahui keberadaannya. Secara teknis, otak adalah pusat pemrosesan informasi dan komando semua fungsi organ tubuh kita. Apa yang dibutuhkan otak, ditunjang oleh fungsi organ tubuh kita. Sebaliknya, fungsi organ tubuh kita diatur secara tidak sadar oleh otak. Otak dan tubuh memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Dalam ilmu beladiri, seorang petarung adalah seseorang yang dapat mencapai keseimbangan antara tubuh dan pikiran. Bukankah hidup kita adalah pertarungan dan proses pembelajaran tanpa henti?

Jacques Lacan criticized ego psychology and ob...

Jacques Lacan criticized ego psychology and object relations theory. (Photo credit: Wikipedia)

are you building your dream? (part 1)

build your own dream today or someone will hire you to build theirs instead!” These are the words i read on an internet forum encouraging people who read it to live their own lives instead of living the lives applied by others. Surely having a degree, a nice job with a fair salary, a house, a car, wife and kids are what most of us dreamed of. Is it true? Does that dream implies who you really are? Does that ideal dream will decide how you will raise your child and how you will feed your family? Where does your degree has brought you so far? How if i tell you that this is all just about spending and consuming.

Have you ever wonder what is the purpose of your life? Did you ever think that finally you’ve made it this far but then, there is still a long journey lies ahead of you. Have you ever spend a little amount of time everyday just to be grateful for what you have, the lesson learned, and what lies ahead? Have you ever think that actually you are not living your own life, that you are living everybody’s expectations but not based on your free will? Your parents made you go to that school, take that degree, work on that job and choose that particular spouse to live in that particular house your mom’s always wanted. Decisions are made for you on the workplace, you’re just a human capital for the company, a cog, a part of a bigger machine. Where do you stand as an individual in a society based on a two centuries old system. Do you still feel as a part of an ethnic group, an unique cultural habitat, or a part of a community?

I’m a Sundanese male, born and raised in the land of the deities or parahyangan. for almost two decades I lived in a small town, south from Bandung, the Capitol City of West Java Province. People tend to get out of my hometown as soon as possible and move where the bigger guns are, but not for me. There’s something on the green rocky hills of Gunung Singah, the paddy fields of Sungapan and the creek of Leuwi Munding where i use to spend most of my childhood. The trailways of the ancient Situ Bandung volcano can be seen atop of the hill, to the northern side of my hometown, with the snake-like streams led to Citarum and the green paddy fields that stretched as far as the eyes can see but distorted by housings and factory complexes. This is the place where people are evicted from their way of life, their cultural heritage and their mother tongue.

People went to the cities or produces the basic needs of the people in the cities just to make ends meet they say, but based on my observation, they have meet more than their ends. The metropolitan way of life, the consuming fashion, sewed by the hands of the people here. Rice, meat, poultry and vegetables that raised from farms and fields southern from my hometown. Yet, they gave us indecent shows on TV, factories, mini marts and malls. They give us pollutants in our air, soil and water. Where are we, Sundanese people is going to “live” and thrive as a part of a large nation of Nusantara?

English: Dam in the Citarum river Nederlands: ...

English: Dam in the Citarum river Nederlands: Foto. Stuw in de rivier Citarum (Photo credit: Wikipedia)