Misunderstood

Ever got that feeling that you’re a complete mess? It’s like you want to set things right but nothing seems to end the silence? Being kept in silence or being left out in the dark probably IS the worst feeling you can experience. Making compromise is kinda easy but hard thing to do, because communicating the issue to get to the solution is the aim, not prolonging the problem then dwell to the abyss of the never ending argument.

People like to argue because they think about what IS personally right for each and one of them. To work as a unit takes more patience than ever expected. It’s a never ending process of engagements to produce solutions. People tend to stick to their problems but forgot that every problem had it owns solution. Building trust in reasoning to find out the solution is one step towards ending the arguments.

Compromising certain aspects is not something you can do in a blink of an eye. You need to hold your pants on certain boundaries, understanding that each and every individuals has different ways of processing information. Being familiar with the issue or the ‘why’ is the utmost important part of handling this particular situation. Arguments can arise just because you misunderstood what the other person is implying. At a split of a second what started to be a passive argument can turn into a violent spitfire. The blaming game started as the topic shifted from the initial problem into past and resolved problems. Hurting each other with words is the aim, to proof each person’s wrong doings, looking back and never resolving the problem at hand.

It’s a stalemate when the ignoring game is started. There’s no turning back, each person has to stand on his/her ground until one of them said ‘i’m sorry’ first. How ridiculous is that? Being a sentient being but taken over by emotions. It is not the matter of mind over body, but it’s the matter of mind over emotions. Putting aside the ugly feelings to sit in a common ground and talk things through. Quit making ridiculous assumptions about each other and start to say the truth. Try to keep an open mind to the situation in hand not about who is wrong or right, because in this situation, both of you can be wrong or right, depends on how you perceive it.

You don’t have to ask for a third party to walk things through or to assess the situation, both of you are enough. Remember why, at the beginning, the both of you got together. Remember why you work out your goals and why both of you started to work as a unit. Put aside personal feelings and let both of your logic do the talking. Stop the verbal assaults and the cruel gestures and both have a cup of tea. Try to create a comfortable situation and try to choose your words wisely, so there’s no more misunderstanding between you. This is not as simple as it seems, at first! When you are accustomed to this style of problem solving conversations, fight by fights, you will understand personally who the person in front of you is and try to compromise the differences. Wouldn’t it be sweet when people starts to conjoin their thoughts rather than taking their problem elsewhere in their separate ways. Basically our thoughts are interconnected, but we choose not to see the connections.

Heated Argument

Heated Argument (Photo credit: kurichan+)

Advertisements

iblis dan setan (bagian 2)

Penghargaan dan hukuman adalah konsep yang paling awal diajarkan dalam kehidupan kita. Kita dididik bagaimana bersikap dan bertutur sejak kita masih kecil. Pada awalnya, mengatasi fungsi tubuh kita sendiri adalah pembelajaran paling dasar yang kita terima. Kita diberi makan, dibersihkan, dan diajarkan untuk berkomunikasi dalam berbagai bentuk oleh orang tua kita. Sebenarnya kita diajarkan untuk menalar situasi dan melakukan solusi agar kita bisa hidup mandiri sebagai individu yang tidak selalu bergantung kepada orang tua kita. Walaupun subjektif dengan pengetahuan orang tua kita, kita diajari konsep benar dan salah melalui penghargaan dan hukuman yang dilakukan oleh orang tua kita. Itu merupakan penerapan konsep “kasih sayang” yang paling dasar yang dilakukan orang tua kita. Penerapan konsep tersebut sering dibarengi dengan adanya sikap posesif terhadap individu yang disebut anak. Anak diperlakukan sebagai “milik” orang tuanya, terpisah dari sejauh mana kemampuan individu tersebut berkembang 14-20 tahun dari saat ia dilahirkan. Kemudian, konsep penghargaan dan hukuman, ibaratnya, menjadi setir yang mengendalikan bagaimana kita berpikir dan memecahkan masalah, berdasarkan pengalaman yang dimiliki sang orang tua. Pengalaman tersebut menjadi kerangka pemikiran si anak dalam menilai lingkungan di sekitarnya, hasilnya adalah individu yang baru yang memanfaatkan pengalaman yang diunduh melalui tindakan orang tua. Sedikit disadari, pengetahuan yang diunduh tersebut berakibat kepada persepsi si anak terhadap lingkungannya dan bagaimana ia mengambil tindakan dalam situasi tertentu.

Tuhan dan Iblis merupakan dua faktor penting dalam kehidupan manusia. Dengan mengajarkan “agama” berdasarkan cerita-cerita yang terdapat dalam tiap-tiap kitab suci saja, secara tidak langsung orang tua mengajarkan Tuhan sebagai simbol kebaikan dan iblis atau setan sebagai simbol kejahatan. Kebaikan akan dibalas dengan pahala sehingga bisa masuk surga, sedangkan kejahatan akan dibalas dengan dosa sehingga seseorang bisa terjerumus kedalam neraka. Dalam pengajaran ini, kebaikan yang dilakukan akan dibalas dengan keuntungan, sedangkan keburukan yang dilakukan dibalas dengan kerugian. Pada akhirnya yang terbaca oleh anak adalah kerangka berpikir untung-rugi. Bagaimana seorang individu mendapatkan keuntungan dan menghindari kerugian.

Surga adalah tempat dimana kita mendapatkan penghargaan tanpa henti sedangkan neraka merupakan tempat dimana kita mendapatkan penyesalan tanpa henti. Konsep penghargaan dan penyesalan yang diajarkan mengakibatkan seorang individu berlomba-lomba untuk mendapatkan penghargaan sebanyak-banyaknya dan sebisa mungkin menghindari penyesalan. Dalam perdagangan, seorang individu dipacu untuk mendapatkan keuntungan dan reputasi sebaik mungkin untuk mendapatkan hasil yang paling banyak dalam bentuk harta dan alat tukar, sedangkan di sisi lain seorang individu akan berpikir sekeras mungkin untuk menghindari kerugian yang berakhir pada penyesalan karena mengambil langkah yang salah. Bukankah seharusnya kita memperhatikan perjalanan kita agar tidak salah mengambil jalur, alih-alih hanya sekedar membayangkan tempat yang akan kita tuju?

Kehidupan merupakan saat dimana kita semua melakukan semua aktifitas kita sedangkan kematian merupakan titik dimana semua aktifitas tersebut berakhir. Kehidupan adalah wahana pembelajaran tanpa henti, dimulai dari kelahiran lalu diakhiri dengan kematian. Menjalani kehidupan adalah proses perjuangan tanpa henti, tempat kita belajar informasi-informasi baru dan menerapkan apa yang telah kita pelajari selama ini. Namun bila dipandang dari konsep untung-rugi, pada akhirnya kita memerlukan sebuah sosok untuk meminta pertolongan dan sebuah sosok untuk disalahkan. Kita menjadi luput dari konsep bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri. Disadari atau tidak, apapun yang kita lakukan merupakan tindakan yang diambil dengan kesadaran kita sendiri. Pertanyaannya adalah, apakah kesadaran kita tersebut selalu didasari konsep untung rugi atau hanya sebagai proses pembelajaran. Kematian merupakan akhir dari proses. Seorang kawan yang menganut ajaran konghucu pernah berujar bahwa seseorang tidak bisa dibilang baik atau jahat sebelum ia mati.

Seharusnya kita memusatkan perhatian kita pada proses, bukan memusatkan perhatian kita pada hasil semata. Kita luput memperhatikan rute yang kita tempuh sehari-hari sebagai komuter namun lebih berpusat kepada jalan tercepat yang kita tempuh tanpa memedulikan pengguna jalan raya yang lain. Sebagai pengguna sarana transportasi umum, kita sering menyalahkan kemacetan sebagai hambatan dan luput memikirkan solusi kemacetan atau keterlambatan yang kita alami. Transportasi roda dua adalah solusi tercepat untuk menghindari kemacetan dan keterlambatan. Tanpa disadari alat transportasi bermotor roda dua merupakan pilihan yang paling mudah untuk menghadapi masalah tersebut tanpa menghiraukan dampaknya, tanpa menghiraukan kenyamanan pengguna jalan yang lain. Dari contoh tersebut, dapat kita lihat kepemilikan kendaraan roda dua bukan serta-merta sebagai solusi ekonomis dalam transportasi, namun seperti alat untuk balapan mencapai tujuan dalam waktu dan dengan biaya minimal. Demikianlah kebanyakan orang menjalani hidup dengan ekonomis, mencerminkan tindakan-tindakan yang ekonomis tanpa menghiraukan dampak yang terjadi, karena semua orang cenderung berpikir dalam kerangka yang sama. Itu pula yang menyebabkan sistem transportasi umum yang lebih ramah lingkungan kurang diminati, karena kecenderungan sikap mencapai tujuan individu lebih penting daripada mencapai tujuan bersama. Apakah konsep benar dan salah masih relevan dimana pemaknaan konsep tersebut lebih subjektif berdasarkan kepentingan individu, padahal katanya manusia itu mahluk sosial yang saling bergantung pada peranan masing-masing dalam menjalani hidup?

A MESSAGE FROM THE "FRIENDLY" ISLAMI...

A MESSAGE FROM THE “FRIENDLY” ISLAMIC PEOPLE………… DO YOU EVER WONDER WHY YOU NEVER HEAR “MODERATE MUSLIMS DECRY THE TERRORISTS??? DO YOU? (Photo credit: SS&SS)

curhat dan depresi (bagian 2)

Banyak orang percaya bahwa kemampuan otak kita belum terpakai sepenuhnya. Sebagian orang bilang bahwa kemampuan 0tak kita hanya terpakai 2,5% atau ada pihak lain yang berpendapat kita hanya memakai 10% dari potensi otak kita sepenuhnya. Dengan kemampuan yang demikian kecil porsinya, bisa kita lihat betapa pesat kemajuan teknologi yang kita capai. Diantara kemajuan-kemajuan tersebut, kemajuan di bidang teknologi informasi terasa demikian cepat, dengan adanya media-media sosial yang dapat kita akses dalam genggaman kita. Gadget-gadget yang kita miliki untuk saling berkomunikasi menjadi sarana sosialisasi yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan kita. Pada saat kita jengah dengan rutinitas kita, gadget-gadget tersebut dapat menjadi sarana pertolongan pertama untuk bersosialisasi dengan dunia maya dalam jangkauan lokal maupun internasional. Di lain pihak, sarana bersosialisasi yang baru ini malah menjadi batasan bagi kita untuk bersosialisasi langsung dengan manusia lain. Bahkan dengan mudahnya, media telekomunikasi ini mengasingkan keberadaan kita dari jarak sosial yang seharusnya secara sengaja maupun tidak. Dalam genggaman kita, kita dapat secara terbuka menunjukkan siapa diri kita yang jarang kita tunjukkan dalam dunia nyata, kita dapat secara tertutup menjalin hubungan rahasia yang tidak ingin orang lain ketahui atau dengan mudahnya kita dapat memata-matai aktifitas seseorang di dunia maya untuk kepentingan kita sendiri.

Otak kita memiliki kecerdasan logika dan kecerdasan emosional. Kecerdasan logika seringnya hanya terbatas pada pemecahan masalah teknis yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, sedangkan kecerdasan emosional seringnya juga hanya terbatas dengan masalah-masalah sosial yang kita hadapi sehari-hari. Lalu, dimanakah manfaat kedua kecerdasan tersebut bagi pribadi kita? Jarang kita sadari bahwa sehari-hari kita lebih fokus dengan apa yang terjadi diluar diri kita, namun kita sering melupakan kebutuhan psikis diri kita sendiri. Spiritualitas sepertinya menjadi kebutuhan yang terpisah dari kehidupan kita sehari-hari. Dengan mudah kita dapat menemui kejahatan-kejahatan kerah putih terjadi serta dilakukan oleh orang-orang yang cerdas. Korupsi dan gratifikasi merupakan hal-hal yang lumrah dalam kehidupan kita sehari-hari. Sangat lumrah, sepertinya korupsi dan gratifikasi merupakan bahasa pertukaran baru dalam transaksi sosial kita. Istilah pelicin atau titipan merupakan alat tukar resmi dalam memecahkan “masalah-masalah” yang kita miliki. “Kenapa harus sulit kalau bisa dipermudah?” memiliki artian lain, seakan-akan kemudahan memiliki sebuah harga yang bisa diukur dengan kapital. Kemudahan yang dapat dibeli membuat otak kita menjadi malas berpikir bahkan malas untuk memecahkan masalah, karena tiap orang memikirkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Malasnya berpikir membuat kemampuan kita untuk memecahkan masalah jadi menurun.

Saat otak kita kelebihan beban, maka sistem pertahanannya adalah membagi beban tersebut kepada orang lain. Istilah lain dari membagi masalah adalah curhat. Freud melabeli hal tersebut sebagai the speaking therapy, dimana si empunya masalah mengujarkan semua unek-uneknya kepada seorang terapis sehingga si terapis dapat membantu orang tersebut mengurai masalah-masalah dan mengetahui sebab-sebab mengapa batinnya begitu tertekan. Masalah psikis yang biasanya muncul tidak lepas dari pola kita dididik semasa kecil hingga remaja. Sejak remaja kita sudah terbiasa curhat tentang masalah-masalah kita kepada teman-teman terdekat. Jarak antara hubungan orang tua dengan anak menyebabkan mudahnya kita pada saat remaja untuk berbagi masalah dengan rekan sebaya, bukannya dengan orang tua yang seharusnya lebih pro-aktif membimbing perkembangan kita. Sekolah telah menjadi sebuah institusi penitipan anak, dimana kita lebih kuat dipengaruhi lingkungan pergaulan sekolah dibandingkan lingkungan rumah tangga kita sendiri. Namun, tanpa bimbingan yang baik, curhat dapat berubah dari sarana untuk mengurai masalah menjadi sarana untuk berbagi kebencian. Kebencian terbagi karena informasi yang dibeberkan menrupakan pengetahuan subjektif si penutur sehingga si pendengar hanya mendapatkan informasi searah dari masalah yang dituturkan.

Solusi yang terbaik dalam menghadapi permasalahan psikis adalah mengendalikan diri dan mengembangkan kemampuan pemecahan masalah kita. Semuanya dimulai dari diri kita sendiri, sebelum kita bisa ikut memecahkan masalah psikis orang lain, maka kita harus mawas diri dengan kemampuan pemecahan masalah kita sendiri. Otak kita adalah super komputer yang teramat canggih, mampu menegakkan norma di suatu saat dan melanggarnya pada saat yang lain, sesuai kebutuhan kita sendiri. Tujuannya hanya satu, untuk bertahan hidup. Insting primordial untuk bertahan hidup merupakan insting yang paling terangsang oleh sistem yang mengatur kehidupan kita. Tujuan-tujuan material yang bersifat sekuler, menjadikan manusia tak jauh berbeda dengan hewan yang bertahan hidup berdasarkan insting. Semua ditata dalam sistem penilaian subjektif “enak” dan “tidak enak.” Untuk mengoptimalkan kemampuan pemecahan masalah kita, kita harus keluar dari kotak penilaian tersebut serta mulai memandang semuanya adalah sebab – akibat – konsekuensi dengan melibatkan kecerdasan psikis kita untuk mengenali bahwa cara orang untuk menerima informasi itu berbeda-beda.

Kesehatan psikis kita erat kaitannya dengan kesehatan fisik kita. Dari sudut pandang material, benak kita tidak dapat terdeteksi, namun perangkat keras dimana benak itu berada dapat kita ketahui keberadaannya. Secara teknis, otak adalah pusat pemrosesan informasi dan komando semua fungsi organ tubuh kita. Apa yang dibutuhkan otak, ditunjang oleh fungsi organ tubuh kita. Sebaliknya, fungsi organ tubuh kita diatur secara tidak sadar oleh otak. Otak dan tubuh memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Dalam ilmu beladiri, seorang petarung adalah seseorang yang dapat mencapai keseimbangan antara tubuh dan pikiran. Bukankah hidup kita adalah pertarungan dan proses pembelajaran tanpa henti?

Jacques Lacan criticized ego psychology and ob...

Jacques Lacan criticized ego psychology and object relations theory. (Photo credit: Wikipedia)

curhat dan depresi (bagian 1)

Tekanan psikis adalah hal yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Sejak kecil kita dibiasakan untuk menghadapi tekanan psikis dari orang tua kita, apabila kita jatuh atau merusak perabotan yang ada dirumah. Pada saat sekolah, kita dibiasakan untuk mendapatkan tekanan psikis dari guru dan standar-standar nilai yang harus dipenuhi. Dalam dunia kerja, kita mengenal deadline dan proyek yang sangat menyita perhatian kita dan menguras energi kita secara psikis. Pergaulan kita pun tak luput dari beban psikis, diantaranya teman-teman yang sering curhat mengenai masalahnya, hingga pasangan kita yang mencoba agar nyambung dengan kepribadian kita ataupun sebaliknya. Inti dari tekanan psikis adalah kerja otak yang dipengaruhi oleh hormon penyebab stress.

Hormon penyebab stress ini merupakan sarana bertahan hidup yang sangat baik bagi manusia karena meningkatkan kemampuan fisik dan indera untuk bertahan hidup dari bahaya apapun yang mengancam. Banyak dari kita tidak mengerti bagaimana cara mengendalikan emosi-emosi yang muncul tersebut. Bila ditilik secara sederhana, percepatan detak jantung, melebarnya pembuluh darah dan semakin tajamnya paca indera merupakan kondisi tubuh yang baik bila kita sedang dikejar binatang buas atau seseorang akan membunuh kita. Dalam keadaan tersebut, sudah pasti potensi tubuh kita menjadi optimal , apapun yang perlu kita lakukan untuk bertahan hidup, seperti lari, memanjat atau melompat dapat dilakukan dengan mudah. Namun, apa jadinya kita yang sehari-hari jarang menemukan aktifitas fisik yang berat, bahkan sangat jarang bertemu dengan bahaya, harus merasakan kondisi tubuh seperti itu?

Kerja otak yang bertubi-tubi dan serta-merta, selalu memikirkan kemungkinan terburuk, dan mengakibatkan sakit kepala yang sebenarnya disebabkan naiknya tekanan darah merupakan gejala awal dari apa yang kita kenal dengan stress. Stress sebagai kondisi fisik dan psikis yang dapat membantu kita melewati bahaya, di era kontemporer ini menjadi salah satu penyebab gangguan kejiwaan, terutama bagi mereka yang tinggal di perkotaan, yang terbiasa dengan laju hidup yang serba cepat dan tuntutan hasil yang serba tinggi. Bayangkan bila anda hidup dalam stress yang terus menerus tiap hari, tanpa tahu apa yang dapat anda lakukan untuk menghentikannya. Lama kelamaan anda akan kecanduan dengan hormon stress, seperti pecandu rokok yang kecanduan nikotin atau pecandu narkotik yang tubuhnya selalu meminta zat adiktif. Stress mendatangkan sensasi yang dinamakan adrenalin rush, seperti yang kita rasakan pada saat naik wahana halilintar di taman hiburan atau sensasi orgasme pada saat persetubuhan. Berdasarkan efek inilah, kita yang bekerja diperas habis-habisan oleh perusahaan dengan menghadirkan tekanan-tekanan dengan penghargaan yang tidak sebading, namun anehnya kita malah betah bekerja di lingkungan seperti itu.

Hidup kita yang sudah terbiasa dengan kondisi stress, membiasakan otak kita untuk mementingkan kepentingan sendiri dibandingkan dengan kepentingan orang lain. Stress memicu kondisi menyelamatkan diri sendiri, seperti yang telah dibahas diatas. Kondisi tersebut membuat kita lebih memperhatikan “bahaya” yang mungkin muncul dari individu-individu yang muncul di sekitar kita. Mulailah muncul rasa curiga, sikap oportunis atau mengambil kesempatan dalam kesempitan tanpa memedulikan etika atau nilai moral yang berlaku dalam pergaulan.

Charles Darwin bilang bahwa evolusi manusia merupakan hasil dari proses yang dinamakan survival of the fittest atau yang paling kuat adalah yang selamat. Bagaimana kalau proses itu terjadi di dunia pergaulan kita? Saling sikut dan saling menjatuhkan menjadi suatu hal yang lumrah (bila orang-orang tersebut mencoba membunuh anda), mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya merupakan hal yang wajar (bila sedang terjadi bencana), dan berusaha menyempatkan diri sebisanya untuk memuaskan kebutuhan seksual (bila keberlangsungan spesies anda terancam). Semua gejala tersebut sudah sering kita saksikan bahkan mungkin kita alami. Gejala-gejala tersebut merupakan sistem pertahanan tubuh yang wajar, bila kita berada pada keadaan yang tepat. Gejala tersebut dapat dikendalikan bila kita mau menyadari fungsi tubuh kita dan mengelola akal dan kesadaran kita dengan baik.

depresi diajarkan kepada kita sejak usia dini

iblis dan setan (bagian 1)

maaf pak, saya khilaf.. saya tergoda bisikan setan.” ujar seorang pemerkosa ketika sesi interogasi sedang berlangsung di sebuah kantor polisi.

Apakah masih relevan di dunia dengan arus informasi yang pesat ini kita menyalahkan “setan”? Apakah setan itu atau siapakah dia? Apakah setan adalah sosok bertanduk yang mengikuti manusia, ditemani sosok bersayap yang kita kenal sebagai “malaikat”? Seperti apakah manifestasi dari sosok setan tersebut? Apakah ia sosok mistis yang mendiami pohon-pohon besar atau ia lah sosok yang dipanggil oleh para dukun untuk melancarkan serangan astral pada target yang dituju dengan imbalan rupiah?

Manusia cenderung berpatokan pada ukuran salah dan benar. Bila benar, kebenaran tersebut merupakan petunjuk Illahiah, sedangkan bila salah maka kesalahan tersebut merupakan hasil dari bisikan setan. Lali, dimanakah posisi manusia sebenarnya? Apakah manusia hanyalah sebatas pion yang digerakkan oleh kekuatan yang Maha Agung? Apakah sebenarnya manusia terombang-ambing dalam konteks “takdir,” tidak memiliki kuasa bebas atas tindakan yang telah atau akan dilakukannya? Bila memang demikian, apakah fungsi akal manusia? Siapakah yang berkehendak, mempertuturkan nafsunya untuk berkegiatan, sederhananya berjalan bukanlah kehendak pribadi kalau kerangka pemikiran kita serupa demikian.

Marah, senang, lapar, takut, sakit, dan lain-lain merupakan impuls reflek yang dipengaruhi hormon-hormon didalam otak. Otak adalah pusat syaraf yang mengatur segala rangsang dan kegiatan yang terjadi dan dilakukan oleh manusia sehari-hari. Lalu, personifikasi dari yang “Illahi” dan yang “syaitani” datang darimana? Semuanya berasal dari pendidikan benar dan salah. Bila benar maka akan dihargai, sedangkan bila salah maka akan dihukum. Konsep penghargaan dan hukuman adalah dasar dari personifikasi “illahiah” sebagai yang “diatas” dengan segala kenikmatannya, dan personifikasi “syaitani” sebagai yang dibawah dengan segala siksaannya. Apakah semudah itu? Mengapa kita cenderung tertarik dengan konsep penghargaan dan hukuman? Saat pelaku pemerkosaan tersebut mendapatkan kenikmatan duniawi dari perbuatannya, bukankah ia mendapatkan semacam “penghargaan psikis” karena ia telah mampu melampiaskan hasrat primordial terhadap lawan jenisnya (bila ia heteroseksual)? Sebaliknya, saat si pelaku pemerkosaan tersebut tertangkap, bukankah didalam benaknya ia mendapatkan semacam “hukuman psikis” karena ia telah gagal untuk melarikan diri dari tindakannya melanggar tubuh lawan jenisnya?

Kita lihat dari konsep gelap dan terang. Para dewa dan dewi tinggal di tempat yang tinggi atau kahyangan digambarkan hidupnya serba mudah, serba indah, dan serba luhur, berbanding terbalik dengan para butakala yang tinggal di hutan gelap, didalam gua atau dibawah tanah yang serba buruk rupa, serba seram, dan serba rendah. Manusia tinggal di “buana tengah” tanpa diberi tahu bahwa potensi yang mereka miliki bisa melebihi para dewa-dewi atau para butakala sekalipun. Manusia dengan kekuatan akalnya telah menghantarkan perwakilannya sampai ke bulan, menyelam ke kedalaman palung marinara dan ketinggian puncak Everest, namun masih terjebak pada konsep bahwa konsekuensi dari tindakan mereka bukanlah atas kehendak yan mereka miliki? Akal manusia bisa menginspirasi tindakan paling mulia seperti yang dilakukan Bunda Theresa atau pembantaian terkejam yang dilakukan oleh Adolf Hitler. Namun, semuanya menjadi abu-abu bila kita menilik invasi Amerika Serikat terhadap Irak. Apakah benar mereka membebaskan rakyat irak dari tirani Saddam Husein ¬†atau hanya membangun “tirani minyak bumi” baru diatas tirani idealis yang membungkam akses asing terhadap kekayaan alam Irak.

Kesempurnaan manusia adalah kemampuannya untuk berbuat apa saja. Sempurna bukan berarti tanpa cela, tapi sempurna adalah mampu berbuat cela. Kesempurnaan adalah mampu memanfaatkan akal untuk mengendalikan hasrat yang primordial. Kesempurnaan manusia adalah mampu berbuat yang salah secara moral pada waktu yang tepat atau bertahan pada nilai-nilai moral yang tepat pada waktu dan tempat yang salah. Seorang anak yang tinggal di lingkungan yang rawan kejahatan namun berhasil mencapai tujuan hidupnya melalui pendidikan dan kegiatan positif. Seorang mantan pembunuh bayaran yang membaktikan dirinya untuk kepentingan masyarakat melalui kepercayaan atau ajaran yang baru ia anut kembali. Demikian adalah dua contoh dari mukjizat Tuhan, dianugerahkan kepada manusia, yaitu kesempurnaan.

pergulatan tanpa henti didalam benak manusia untuk mencapai keseimbangan hakiki.

equilibrium