iblis dan setan (bagian 2)

Penghargaan dan hukuman adalah konsep yang paling awal diajarkan dalam kehidupan kita. Kita dididik bagaimana bersikap dan bertutur sejak kita masih kecil. Pada awalnya, mengatasi fungsi tubuh kita sendiri adalah pembelajaran paling dasar yang kita terima. Kita diberi makan, dibersihkan, dan diajarkan untuk berkomunikasi dalam berbagai bentuk oleh orang tua kita. Sebenarnya kita diajarkan untuk menalar situasi dan melakukan solusi agar kita bisa hidup mandiri sebagai individu yang tidak selalu bergantung kepada orang tua kita. Walaupun subjektif dengan pengetahuan orang tua kita, kita diajari konsep benar dan salah melalui penghargaan dan hukuman yang dilakukan oleh orang tua kita. Itu merupakan penerapan konsep “kasih sayang” yang paling dasar yang dilakukan orang tua kita. Penerapan konsep tersebut sering dibarengi dengan adanya sikap posesif terhadap individu yang disebut anak. Anak diperlakukan sebagai “milik” orang tuanya, terpisah dari sejauh mana kemampuan individu tersebut berkembang 14-20 tahun dari saat ia dilahirkan. Kemudian, konsep penghargaan dan hukuman, ibaratnya, menjadi setir yang mengendalikan bagaimana kita berpikir dan memecahkan masalah, berdasarkan pengalaman yang dimiliki sang orang tua. Pengalaman tersebut menjadi kerangka pemikiran si anak dalam menilai lingkungan di sekitarnya, hasilnya adalah individu yang baru yang memanfaatkan pengalaman yang diunduh melalui tindakan orang tua. Sedikit disadari, pengetahuan yang diunduh tersebut berakibat kepada persepsi si anak terhadap lingkungannya dan bagaimana ia mengambil tindakan dalam situasi tertentu.

Tuhan dan Iblis merupakan dua faktor penting dalam kehidupan manusia. Dengan mengajarkan “agama” berdasarkan cerita-cerita yang terdapat dalam tiap-tiap kitab suci saja, secara tidak langsung orang tua mengajarkan Tuhan sebagai simbol kebaikan dan iblis atau setan sebagai simbol kejahatan. Kebaikan akan dibalas dengan pahala sehingga bisa masuk surga, sedangkan kejahatan akan dibalas dengan dosa sehingga seseorang bisa terjerumus kedalam neraka. Dalam pengajaran ini, kebaikan yang dilakukan akan dibalas dengan keuntungan, sedangkan keburukan yang dilakukan dibalas dengan kerugian. Pada akhirnya yang terbaca oleh anak adalah kerangka berpikir untung-rugi. Bagaimana seorang individu mendapatkan keuntungan dan menghindari kerugian.

Surga adalah tempat dimana kita mendapatkan penghargaan tanpa henti sedangkan neraka merupakan tempat dimana kita mendapatkan penyesalan tanpa henti. Konsep penghargaan dan penyesalan yang diajarkan mengakibatkan seorang individu berlomba-lomba untuk mendapatkan penghargaan sebanyak-banyaknya dan sebisa mungkin menghindari penyesalan. Dalam perdagangan, seorang individu dipacu untuk mendapatkan keuntungan dan reputasi sebaik mungkin untuk mendapatkan hasil yang paling banyak dalam bentuk harta dan alat tukar, sedangkan di sisi lain seorang individu akan berpikir sekeras mungkin untuk menghindari kerugian yang berakhir pada penyesalan karena mengambil langkah yang salah. Bukankah seharusnya kita memperhatikan perjalanan kita agar tidak salah mengambil jalur, alih-alih hanya sekedar membayangkan tempat yang akan kita tuju?

Kehidupan merupakan saat dimana kita semua melakukan semua aktifitas kita sedangkan kematian merupakan titik dimana semua aktifitas tersebut berakhir. Kehidupan adalah wahana pembelajaran tanpa henti, dimulai dari kelahiran lalu diakhiri dengan kematian. Menjalani kehidupan adalah proses perjuangan tanpa henti, tempat kita belajar informasi-informasi baru dan menerapkan apa yang telah kita pelajari selama ini. Namun bila dipandang dari konsep untung-rugi, pada akhirnya kita memerlukan sebuah sosok untuk meminta pertolongan dan sebuah sosok untuk disalahkan. Kita menjadi luput dari konsep bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri. Disadari atau tidak, apapun yang kita lakukan merupakan tindakan yang diambil dengan kesadaran kita sendiri. Pertanyaannya adalah, apakah kesadaran kita tersebut selalu didasari konsep untung rugi atau hanya sebagai proses pembelajaran. Kematian merupakan akhir dari proses. Seorang kawan yang menganut ajaran konghucu pernah berujar bahwa seseorang tidak bisa dibilang baik atau jahat sebelum ia mati.

Seharusnya kita memusatkan perhatian kita pada proses, bukan memusatkan perhatian kita pada hasil semata. Kita luput memperhatikan rute yang kita tempuh sehari-hari sebagai komuter namun lebih berpusat kepada jalan tercepat yang kita tempuh tanpa memedulikan pengguna jalan raya yang lain. Sebagai pengguna sarana transportasi umum, kita sering menyalahkan kemacetan sebagai hambatan dan luput memikirkan solusi kemacetan atau keterlambatan yang kita alami. Transportasi roda dua adalah solusi tercepat untuk menghindari kemacetan dan keterlambatan. Tanpa disadari alat transportasi bermotor roda dua merupakan pilihan yang paling mudah untuk menghadapi masalah tersebut tanpa menghiraukan dampaknya, tanpa menghiraukan kenyamanan pengguna jalan yang lain. Dari contoh tersebut, dapat kita lihat kepemilikan kendaraan roda dua bukan serta-merta sebagai solusi ekonomis dalam transportasi, namun seperti alat untuk balapan mencapai tujuan dalam waktu dan dengan biaya minimal. Demikianlah kebanyakan orang menjalani hidup dengan ekonomis, mencerminkan tindakan-tindakan yang ekonomis tanpa menghiraukan dampak yang terjadi, karena semua orang cenderung berpikir dalam kerangka yang sama. Itu pula yang menyebabkan sistem transportasi umum yang lebih ramah lingkungan kurang diminati, karena kecenderungan sikap mencapai tujuan individu lebih penting daripada mencapai tujuan bersama. Apakah konsep benar dan salah masih relevan dimana pemaknaan konsep tersebut lebih subjektif berdasarkan kepentingan individu, padahal katanya manusia itu mahluk sosial yang saling bergantung pada peranan masing-masing dalam menjalani hidup?

A MESSAGE FROM THE "FRIENDLY" ISLAMI...

A MESSAGE FROM THE “FRIENDLY” ISLAMIC PEOPLE………… DO YOU EVER WONDER WHY YOU NEVER HEAR “MODERATE MUSLIMS DECRY THE TERRORISTS??? DO YOU? (Photo credit: SS&SS)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s