curhat dan depresi (bagian 2)

Banyak orang percaya bahwa kemampuan otak kita belum terpakai sepenuhnya. Sebagian orang bilang bahwa kemampuan 0tak kita hanya terpakai 2,5% atau ada pihak lain yang berpendapat kita hanya memakai 10% dari potensi otak kita sepenuhnya. Dengan kemampuan yang demikian kecil porsinya, bisa kita lihat betapa pesat kemajuan teknologi yang kita capai. Diantara kemajuan-kemajuan tersebut, kemajuan di bidang teknologi informasi terasa demikian cepat, dengan adanya media-media sosial yang dapat kita akses dalam genggaman kita. Gadget-gadget yang kita miliki untuk saling berkomunikasi menjadi sarana sosialisasi yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan kita. Pada saat kita jengah dengan rutinitas kita, gadget-gadget tersebut dapat menjadi sarana pertolongan pertama untuk bersosialisasi dengan dunia maya dalam jangkauan lokal maupun internasional. Di lain pihak, sarana bersosialisasi yang baru ini malah menjadi batasan bagi kita untuk bersosialisasi langsung dengan manusia lain. Bahkan dengan mudahnya, media telekomunikasi ini mengasingkan keberadaan kita dari jarak sosial yang seharusnya secara sengaja maupun tidak. Dalam genggaman kita, kita dapat secara terbuka menunjukkan siapa diri kita yang jarang kita tunjukkan dalam dunia nyata, kita dapat secara tertutup menjalin hubungan rahasia yang tidak ingin orang lain ketahui atau dengan mudahnya kita dapat memata-matai aktifitas seseorang di dunia maya untuk kepentingan kita sendiri.

Otak kita memiliki kecerdasan logika dan kecerdasan emosional. Kecerdasan logika seringnya hanya terbatas pada pemecahan masalah teknis yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, sedangkan kecerdasan emosional seringnya juga hanya terbatas dengan masalah-masalah sosial yang kita hadapi sehari-hari. Lalu, dimanakah manfaat kedua kecerdasan tersebut bagi pribadi kita? Jarang kita sadari bahwa sehari-hari kita lebih fokus dengan apa yang terjadi diluar diri kita, namun kita sering melupakan kebutuhan psikis diri kita sendiri. Spiritualitas sepertinya menjadi kebutuhan yang terpisah dari kehidupan kita sehari-hari. Dengan mudah kita dapat menemui kejahatan-kejahatan kerah putih terjadi serta dilakukan oleh orang-orang yang cerdas. Korupsi dan gratifikasi merupakan hal-hal yang lumrah dalam kehidupan kita sehari-hari. Sangat lumrah, sepertinya korupsi dan gratifikasi merupakan bahasa pertukaran baru dalam transaksi sosial kita. Istilah pelicin atau titipan merupakan alat tukar resmi dalam memecahkan “masalah-masalah” yang kita miliki. “Kenapa harus sulit kalau bisa dipermudah?” memiliki artian lain, seakan-akan kemudahan memiliki sebuah harga yang bisa diukur dengan kapital. Kemudahan yang dapat dibeli membuat otak kita menjadi malas berpikir bahkan malas untuk memecahkan masalah, karena tiap orang memikirkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Malasnya berpikir membuat kemampuan kita untuk memecahkan masalah jadi menurun.

Saat otak kita kelebihan beban, maka sistem pertahanannya adalah membagi beban tersebut kepada orang lain. Istilah lain dari membagi masalah adalah curhat. Freud melabeli hal tersebut sebagai the speaking therapy, dimana si empunya masalah mengujarkan semua unek-uneknya kepada seorang terapis sehingga si terapis dapat membantu orang tersebut mengurai masalah-masalah dan mengetahui sebab-sebab mengapa batinnya begitu tertekan. Masalah psikis yang biasanya muncul tidak lepas dari pola kita dididik semasa kecil hingga remaja. Sejak remaja kita sudah terbiasa curhat tentang masalah-masalah kita kepada teman-teman terdekat. Jarak antara hubungan orang tua dengan anak menyebabkan mudahnya kita pada saat remaja untuk berbagi masalah dengan rekan sebaya, bukannya dengan orang tua yang seharusnya lebih pro-aktif membimbing perkembangan kita. Sekolah telah menjadi sebuah institusi penitipan anak, dimana kita lebih kuat dipengaruhi lingkungan pergaulan sekolah dibandingkan lingkungan rumah tangga kita sendiri. Namun, tanpa bimbingan yang baik, curhat dapat berubah dari sarana untuk mengurai masalah menjadi sarana untuk berbagi kebencian. Kebencian terbagi karena informasi yang dibeberkan menrupakan pengetahuan subjektif si penutur sehingga si pendengar hanya mendapatkan informasi searah dari masalah yang dituturkan.

Solusi yang terbaik dalam menghadapi permasalahan psikis adalah mengendalikan diri dan mengembangkan kemampuan pemecahan masalah kita. Semuanya dimulai dari diri kita sendiri, sebelum kita bisa ikut memecahkan masalah psikis orang lain, maka kita harus mawas diri dengan kemampuan pemecahan masalah kita sendiri. Otak kita adalah super komputer yang teramat canggih, mampu menegakkan norma di suatu saat dan melanggarnya pada saat yang lain, sesuai kebutuhan kita sendiri. Tujuannya hanya satu, untuk bertahan hidup. Insting primordial untuk bertahan hidup merupakan insting yang paling terangsang oleh sistem yang mengatur kehidupan kita. Tujuan-tujuan material yang bersifat sekuler, menjadikan manusia tak jauh berbeda dengan hewan yang bertahan hidup berdasarkan insting. Semua ditata dalam sistem penilaian subjektif “enak” dan “tidak enak.” Untuk mengoptimalkan kemampuan pemecahan masalah kita, kita harus keluar dari kotak penilaian tersebut serta mulai memandang semuanya adalah sebab – akibat – konsekuensi dengan melibatkan kecerdasan psikis kita untuk mengenali bahwa cara orang untuk menerima informasi itu berbeda-beda.

Kesehatan psikis kita erat kaitannya dengan kesehatan fisik kita. Dari sudut pandang material, benak kita tidak dapat terdeteksi, namun perangkat keras dimana benak itu berada dapat kita ketahui keberadaannya. Secara teknis, otak adalah pusat pemrosesan informasi dan komando semua fungsi organ tubuh kita. Apa yang dibutuhkan otak, ditunjang oleh fungsi organ tubuh kita. Sebaliknya, fungsi organ tubuh kita diatur secara tidak sadar oleh otak. Otak dan tubuh memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Dalam ilmu beladiri, seorang petarung adalah seseorang yang dapat mencapai keseimbangan antara tubuh dan pikiran. Bukankah hidup kita adalah pertarungan dan proses pembelajaran tanpa henti?

Jacques Lacan criticized ego psychology and ob...

Jacques Lacan criticized ego psychology and object relations theory. (Photo credit: Wikipedia)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s