curhat dan depresi (bagian 1)

Tekanan psikis adalah hal yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Sejak kecil kita dibiasakan untuk menghadapi tekanan psikis dari orang tua kita, apabila kita jatuh atau merusak perabotan yang ada dirumah. Pada saat sekolah, kita dibiasakan untuk mendapatkan tekanan psikis dari guru dan standar-standar nilai yang harus dipenuhi. Dalam dunia kerja, kita mengenal deadline dan proyek yang sangat menyita perhatian kita dan menguras energi kita secara psikis. Pergaulan kita pun tak luput dari beban psikis, diantaranya teman-teman yang sering curhat mengenai masalahnya, hingga pasangan kita yang mencoba agar nyambung dengan kepribadian kita ataupun sebaliknya. Inti dari tekanan psikis adalah kerja otak yang dipengaruhi oleh hormon penyebab stress.

Hormon penyebab stress ini merupakan sarana bertahan hidup yang sangat baik bagi manusia karena meningkatkan kemampuan fisik dan indera untuk bertahan hidup dari bahaya apapun yang mengancam. Banyak dari kita tidak mengerti bagaimana cara mengendalikan emosi-emosi yang muncul tersebut. Bila ditilik secara sederhana, percepatan detak jantung, melebarnya pembuluh darah dan semakin tajamnya paca indera merupakan kondisi tubuh yang baik bila kita sedang dikejar binatang buas atau seseorang akan membunuh kita. Dalam keadaan tersebut, sudah pasti potensi tubuh kita menjadi optimal , apapun yang perlu kita lakukan untuk bertahan hidup, seperti lari, memanjat atau melompat dapat dilakukan dengan mudah. Namun, apa jadinya kita yang sehari-hari jarang menemukan aktifitas fisik yang berat, bahkan sangat jarang bertemu dengan bahaya, harus merasakan kondisi tubuh seperti itu?

Kerja otak yang bertubi-tubi dan serta-merta, selalu memikirkan kemungkinan terburuk, dan mengakibatkan sakit kepala yang sebenarnya disebabkan naiknya tekanan darah merupakan gejala awal dari apa yang kita kenal dengan stress. Stress sebagai kondisi fisik dan psikis yang dapat membantu kita melewati bahaya, di era kontemporer ini menjadi salah satu penyebab gangguan kejiwaan, terutama bagi mereka yang tinggal di perkotaan, yang terbiasa dengan laju hidup yang serba cepat dan tuntutan hasil yang serba tinggi. Bayangkan bila anda hidup dalam stress yang terus menerus tiap hari, tanpa tahu apa yang dapat anda lakukan untuk menghentikannya. Lama kelamaan anda akan kecanduan dengan hormon stress, seperti pecandu rokok yang kecanduan nikotin atau pecandu narkotik yang tubuhnya selalu meminta zat adiktif. Stress mendatangkan sensasi yang dinamakan adrenalin rush, seperti yang kita rasakan pada saat naik wahana halilintar di taman hiburan atau sensasi orgasme pada saat persetubuhan. Berdasarkan efek inilah, kita yang bekerja diperas habis-habisan oleh perusahaan dengan menghadirkan tekanan-tekanan dengan penghargaan yang tidak sebading, namun anehnya kita malah betah bekerja di lingkungan seperti itu.

Hidup kita yang sudah terbiasa dengan kondisi stress, membiasakan otak kita untuk mementingkan kepentingan sendiri dibandingkan dengan kepentingan orang lain. Stress memicu kondisi menyelamatkan diri sendiri, seperti yang telah dibahas diatas. Kondisi tersebut membuat kita lebih memperhatikan “bahaya” yang mungkin muncul dari individu-individu yang muncul di sekitar kita. Mulailah muncul rasa curiga, sikap oportunis atau mengambil kesempatan dalam kesempitan tanpa memedulikan etika atau nilai moral yang berlaku dalam pergaulan.

Charles Darwin bilang bahwa evolusi manusia merupakan hasil dari proses yang dinamakan survival of the fittest atau yang paling kuat adalah yang selamat. Bagaimana kalau proses itu terjadi di dunia pergaulan kita? Saling sikut dan saling menjatuhkan menjadi suatu hal yang lumrah (bila orang-orang tersebut mencoba membunuh anda), mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya merupakan hal yang wajar (bila sedang terjadi bencana), dan berusaha menyempatkan diri sebisanya untuk memuaskan kebutuhan seksual (bila keberlangsungan spesies anda terancam). Semua gejala tersebut sudah sering kita saksikan bahkan mungkin kita alami. Gejala-gejala tersebut merupakan sistem pertahanan tubuh yang wajar, bila kita berada pada keadaan yang tepat. Gejala tersebut dapat dikendalikan bila kita mau menyadari fungsi tubuh kita dan mengelola akal dan kesadaran kita dengan baik.

depresi diajarkan kepada kita sejak usia dini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s