iblis dan setan (bagian 1)

maaf pak, saya khilaf.. saya tergoda bisikan setan.” ujar seorang pemerkosa ketika sesi interogasi sedang berlangsung di sebuah kantor polisi.

Apakah masih relevan di dunia dengan arus informasi yang pesat ini kita menyalahkan “setan”? Apakah setan itu atau siapakah dia? Apakah setan adalah sosok bertanduk yang mengikuti manusia, ditemani sosok bersayap yang kita kenal sebagai “malaikat”? Seperti apakah manifestasi dari sosok setan tersebut? Apakah ia sosok mistis yang mendiami pohon-pohon besar atau ia lah sosok yang dipanggil oleh para dukun untuk melancarkan serangan astral pada target yang dituju dengan imbalan rupiah?

Manusia cenderung berpatokan pada ukuran salah dan benar. Bila benar, kebenaran tersebut merupakan petunjuk Illahiah, sedangkan bila salah maka kesalahan tersebut merupakan hasil dari bisikan setan. Lali, dimanakah posisi manusia sebenarnya? Apakah manusia hanyalah sebatas pion yang digerakkan oleh kekuatan yang Maha Agung? Apakah sebenarnya manusia terombang-ambing dalam konteks “takdir,” tidak memiliki kuasa bebas atas tindakan yang telah atau akan dilakukannya? Bila memang demikian, apakah fungsi akal manusia? Siapakah yang berkehendak, mempertuturkan nafsunya untuk berkegiatan, sederhananya berjalan bukanlah kehendak pribadi kalau kerangka pemikiran kita serupa demikian.

Marah, senang, lapar, takut, sakit, dan lain-lain merupakan impuls reflek yang dipengaruhi hormon-hormon didalam otak. Otak adalah pusat syaraf yang mengatur segala rangsang dan kegiatan yang terjadi dan dilakukan oleh manusia sehari-hari. Lalu, personifikasi dari yang “Illahi” dan yang “syaitani” datang darimana? Semuanya berasal dari pendidikan benar dan salah. Bila benar maka akan dihargai, sedangkan bila salah maka akan dihukum. Konsep penghargaan dan hukuman adalah dasar dari personifikasi “illahiah” sebagai yang “diatas” dengan segala kenikmatannya, dan personifikasi “syaitani” sebagai yang dibawah dengan segala siksaannya. Apakah semudah itu? Mengapa kita cenderung tertarik dengan konsep penghargaan dan hukuman? Saat pelaku pemerkosaan tersebut mendapatkan kenikmatan duniawi dari perbuatannya, bukankah ia mendapatkan semacam “penghargaan psikis” karena ia telah mampu melampiaskan hasrat primordial terhadap lawan jenisnya (bila ia heteroseksual)? Sebaliknya, saat si pelaku pemerkosaan tersebut tertangkap, bukankah didalam benaknya ia mendapatkan semacam “hukuman psikis” karena ia telah gagal untuk melarikan diri dari tindakannya melanggar tubuh lawan jenisnya?

Kita lihat dari konsep gelap dan terang. Para dewa dan dewi tinggal di tempat yang tinggi atau kahyangan digambarkan hidupnya serba mudah, serba indah, dan serba luhur, berbanding terbalik dengan para butakala yang tinggal di hutan gelap, didalam gua atau dibawah tanah yang serba buruk rupa, serba seram, dan serba rendah. Manusia tinggal di “buana tengah” tanpa diberi tahu bahwa potensi yang mereka miliki bisa melebihi para dewa-dewi atau para butakala sekalipun. Manusia dengan kekuatan akalnya telah menghantarkan perwakilannya sampai ke bulan, menyelam ke kedalaman palung marinara dan ketinggian puncak Everest, namun masih terjebak pada konsep bahwa konsekuensi dari tindakan mereka bukanlah atas kehendak yan mereka miliki? Akal manusia bisa menginspirasi tindakan paling mulia seperti yang dilakukan Bunda Theresa atau pembantaian terkejam yang dilakukan oleh Adolf Hitler. Namun, semuanya menjadi abu-abu bila kita menilik invasi Amerika Serikat terhadap Irak. Apakah benar mereka membebaskan rakyat irak dari tirani Saddam Husein  atau hanya membangun “tirani minyak bumi” baru diatas tirani idealis yang membungkam akses asing terhadap kekayaan alam Irak.

Kesempurnaan manusia adalah kemampuannya untuk berbuat apa saja. Sempurna bukan berarti tanpa cela, tapi sempurna adalah mampu berbuat cela. Kesempurnaan adalah mampu memanfaatkan akal untuk mengendalikan hasrat yang primordial. Kesempurnaan manusia adalah mampu berbuat yang salah secara moral pada waktu yang tepat atau bertahan pada nilai-nilai moral yang tepat pada waktu dan tempat yang salah. Seorang anak yang tinggal di lingkungan yang rawan kejahatan namun berhasil mencapai tujuan hidupnya melalui pendidikan dan kegiatan positif. Seorang mantan pembunuh bayaran yang membaktikan dirinya untuk kepentingan masyarakat melalui kepercayaan atau ajaran yang baru ia anut kembali. Demikian adalah dua contoh dari mukjizat Tuhan, dianugerahkan kepada manusia, yaitu kesempurnaan.

pergulatan tanpa henti didalam benak manusia untuk mencapai keseimbangan hakiki.

equilibrium

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s